ibitibit
baru tahu,
ibe,
ibitibit,
pengetahuan
Baru Tahu
Berkaitan dengan hal-hal yang baru aku ketahui dan mungkin juga baru kamu tahu.
Minggu, 14 Juni 2009
ibitibit
berita,
berita terkini,
headlines,
ibe,
ibitibit
Berita
di sini berita terkini : ht+p:/vivanews.com
Kamis, 14 Mei 2009
ibitibit
edu
2 Mei 2009
Hari adalah sesuatu yang dijalani, dinanti dan disesali. Cuplikan kalimat di atas menggambarkan apakah arti sebenarnya dari suatu "hari" yang selalu kita jalani. Hari ini adalah hari yang harus kita jalani, besok adalah hari yang kita nanti dan kemarin adalah hari yang kita sesali. Akankah hari ini akan menjadi hari yang lebih berarti dari hari kemarin ataukah menjadi hari yang merugikan dibandingkan hari esok, atau hari kemarin menjadi hari hari yang kita sesali dan kita harap-harapkan hari tersebut akan bisa diulang ?
Mei, adalah bulan yang diperingati oleng Indonesia sebagai "Hari Pendidikan", tepatnya tanggal 2 Mei. Tanggal tersebut sebaiknya dijadikan renungan, evaluasi dan improvisasi oleh pemerintah Indonesia khususnya Menteri Pendidikan, dan yang kita tentunya sebagai Rakyat yang Cinta Tanah Airnya. Renungan dari kurikulum pendidikan dan kebijakan pendidikan yang diterapkan di negara ini pada tahun-tahun yang lalu. Evaluasi mengenai efektif tidaknya kurikulum dan kebijakan pendidikan yang di tetapkan sampai hari ini. Improvisasi tantang masa depan pendidikan Indonesia yang efektif bagi anak didiknya pada tahun-tahun berikutnya.
Menurut pandangan saya, dan mungkin kebanyakan orang berpandangan sama dengan saya, bahwa pendidikan di indonesia dari tahun ke tahun terus menerus berubah. Ketika terjadi pergantian Presiden, yang sekaligus menyebabkan bergantinya Menteri Pendidikan, maka berganti pulalah kebijakan pendidikan. Mulai dari bergantinya kurikulum pendidikan sampai bergantinya nama pendidikan tersebut. Yang agaknya nama tersebut adalah pencerminan dari siapa Menteri Pendidikan saat itu. Dan antar Menteri Pendidikan dari beberapa pergantian, cenderung mengunggul-unggulkan pemikirannya dan tidak mau tahu dengan kurikulum yang berlaku sebelumnya. Sehingga terwujudlah kurikulum yang menyimpang jauh dari kurikulum yang telah ada. Mulai kurikulum CBSA sampai KBK -saya tidak tahu lagi apa sebutannya sekarang- yang dari satu kurikulum satu dengan yang lainnya tidak ada hubungan kesamaan dan cenderung tidak terdapat kesinambungan. Dan yang perlu digaris bawahi, dari tahun ke tahun kurikulum tersebut semakin menyulitkan sasaran pendidikan itu sendiri -pelajar. Yang kemudian berdampak pula kepada guru dan orang tua si pelajar.
Mungkin benar kebijakan kurikulum pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, beliau ingin pendidikan Indonesia lebih maju dan dapat bersaing dengan negara lain. Akan tetapi dalam implementasinya, para pelajar dan guru-guru bahkan orang tua pelajar tersebut, merasa bingung dan diberatkan oleh kurikulum tersebut. Kebingungan yang dirasakan mencapai puncaknya ketika akhir tahun -saat Ujian Akhir Nasional (UAN), yang namanya juga selalu berubah hampir tiap tahun- ,yaitu nilai minimum yang kian tahun kian bertambah. Wajar saja kalau banyak pelajar yang tidak lulus, meskipun di sana-sini terjadi kecurangan.
Sebagai masyarakat yang peduli pendidikan, saya mengusulkan, mungkin akan lebih efektif jika kurikulum yang dibuat adalah KELANJUTAN dari kurikulum sebelumnya dan diprediksi kurikulum tersebut akan lebih baik dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Bukan kurikulum yang jauh menyimpang dari pendahulunya atau bahkan, kurikulum yang menyulitkan orang-orang yang berperan di dalamnya. Kita semua mengharapkan pendidikan -pada tahun ini- yang lebih baik dan memperbaiki kurikulum -tahun lalu- sebelumnya, yang pada akhirnya akan memperbaiki ekonomi, kesehatan, politik dan pembangunan Bangsa ini. Mudah-mudahan bulan April mendatang -Pesta Demokrasi- menjadi jawaban pendidikan ini.
Mei, adalah bulan yang diperingati oleng Indonesia sebagai "Hari Pendidikan", tepatnya tanggal 2 Mei. Tanggal tersebut sebaiknya dijadikan renungan, evaluasi dan improvisasi oleh pemerintah Indonesia khususnya Menteri Pendidikan, dan yang kita tentunya sebagai Rakyat yang Cinta Tanah Airnya. Renungan dari kurikulum pendidikan dan kebijakan pendidikan yang diterapkan di negara ini pada tahun-tahun yang lalu. Evaluasi mengenai efektif tidaknya kurikulum dan kebijakan pendidikan yang di tetapkan sampai hari ini. Improvisasi tantang masa depan pendidikan Indonesia yang efektif bagi anak didiknya pada tahun-tahun berikutnya.
Menurut pandangan saya, dan mungkin kebanyakan orang berpandangan sama dengan saya, bahwa pendidikan di indonesia dari tahun ke tahun terus menerus berubah. Ketika terjadi pergantian Presiden, yang sekaligus menyebabkan bergantinya Menteri Pendidikan, maka berganti pulalah kebijakan pendidikan. Mulai dari bergantinya kurikulum pendidikan sampai bergantinya nama pendidikan tersebut. Yang agaknya nama tersebut adalah pencerminan dari siapa Menteri Pendidikan saat itu. Dan antar Menteri Pendidikan dari beberapa pergantian, cenderung mengunggul-unggulkan pemikirannya dan tidak mau tahu dengan kurikulum yang berlaku sebelumnya. Sehingga terwujudlah kurikulum yang menyimpang jauh dari kurikulum yang telah ada. Mulai kurikulum CBSA sampai KBK -saya tidak tahu lagi apa sebutannya sekarang- yang dari satu kurikulum satu dengan yang lainnya tidak ada hubungan kesamaan dan cenderung tidak terdapat kesinambungan. Dan yang perlu digaris bawahi, dari tahun ke tahun kurikulum tersebut semakin menyulitkan sasaran pendidikan itu sendiri -pelajar. Yang kemudian berdampak pula kepada guru dan orang tua si pelajar.
Mungkin benar kebijakan kurikulum pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, beliau ingin pendidikan Indonesia lebih maju dan dapat bersaing dengan negara lain. Akan tetapi dalam implementasinya, para pelajar dan guru-guru bahkan orang tua pelajar tersebut, merasa bingung dan diberatkan oleh kurikulum tersebut. Kebingungan yang dirasakan mencapai puncaknya ketika akhir tahun -saat Ujian Akhir Nasional (UAN), yang namanya juga selalu berubah hampir tiap tahun- ,yaitu nilai minimum yang kian tahun kian bertambah. Wajar saja kalau banyak pelajar yang tidak lulus, meskipun di sana-sini terjadi kecurangan.
Sebagai masyarakat yang peduli pendidikan, saya mengusulkan, mungkin akan lebih efektif jika kurikulum yang dibuat adalah KELANJUTAN dari kurikulum sebelumnya dan diprediksi kurikulum tersebut akan lebih baik dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Bukan kurikulum yang jauh menyimpang dari pendahulunya atau bahkan, kurikulum yang menyulitkan orang-orang yang berperan di dalamnya. Kita semua mengharapkan pendidikan -pada tahun ini- yang lebih baik dan memperbaiki kurikulum -tahun lalu- sebelumnya, yang pada akhirnya akan memperbaiki ekonomi, kesehatan, politik dan pembangunan Bangsa ini. Mudah-mudahan bulan April mendatang -Pesta Demokrasi- menjadi jawaban pendidikan ini.
Minggu, 03 Mei 2009
ibitibit
news and event
Saya tak Butuh Uang, tapi Segala Sesuatu butuh Uang
Dalam kehidupan sehari-hari makhluk di bumi ini butuh suatu kegiatan yang sangat vital bila tidak di lakukan, apalagi tak dilakukan dalam jangka waktu yang lama, adalah makan.Namun dalam prakteknya, makan adalah suatu hal yang sanagt sulit dilakukan. Bukan dalam aksi makan-nya, tapi lebih ke cara untuk mendapatkan makan tersebut.
Hal ini disebabkn akan satu hal yang sangat vital, yaitu Uang. Sebenarnya semua orang tak butuh uang, bahkan orang yang tak mampu pun berkata demikian. Bukan karena ia sombong dan takabur, akan tetapi perkataan ia ada benarnya juga. Yang butuh uang bukanlah manusia, karena uang tak dapat dimakan dan manusia, orang yang sangat lapar sekalipun, tak doyan makan uang. Tetapi kenyataannya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, termasuk untuk makan, membutuhkna uang untuk mendapatkannya.
Hal ini disebabkn akan satu hal yang sangat vital, yaitu Uang. Sebenarnya semua orang tak butuh uang, bahkan orang yang tak mampu pun berkata demikian. Bukan karena ia sombong dan takabur, akan tetapi perkataan ia ada benarnya juga. Yang butuh uang bukanlah manusia, karena uang tak dapat dimakan dan manusia, orang yang sangat lapar sekalipun, tak doyan makan uang. Tetapi kenyataannya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, termasuk untuk makan, membutuhkna uang untuk mendapatkannya.
Rabu, 11 Maret 2009
ibitibit
news and event
Maksud Hati Ingin Sembuh ;
Dalam teori jam, entah itu jam dinding, jam tangan maupun jam karet, jarum detil, menit maupun jarum jam dalam jam tersebut dahri waktu ke waktu pastilah bergerak dan beruabah yang kemudian akan kembali di angka yang ia mulai bergerak. Teori ini berbeda dengan teori zaman. Zaman dari tahun ke tahun, dari abad ke abad selalu berubah dan berkembang dan tidak akan kembali ke zaman yang pernah ia lalui.Sehingga, seiring bertambahnya zaman, bertambah pula segala sesuatu yang ada di zaman tersebut, mulai dari perkembangan manusainya sampai perkembangan teknologinya.
Akan tetapi, perkembangan zaman tersebut tidak mempengaruhi pola pikir saudara kita di pulau Jawa bagian timur, tepatnya di kota Jombang. Pernyataan ini terbukti dengan kepercayaan mereka dengan dukun (tahun 2009 masih percaya dukun…! ). Lebih detailnya lagi dukun itu bukanlah dukun seperti normalnya dukun pada umumnya, yang berusia rata-rata diatas 50 tahun. Dukun yang satu masih berusia dibawah 17+ (red 17 tahun), dan ironisnya ia dianggap seorang dukun, hanya karena ia menemukan sebuah batu yang dapat menyembukan tetangganya yang sakit.
Sejak kejadian itu, banyak warga yang mendengar berita tersebut dan tersebar luas berita tentang ’si dukun cilik’ dari Jombang . Tidak sedikit warga ( red pasien) yang berbondong-bondong menuju ke tempat tinggal bocah tersebut, yang ingin di sembuhkan dari penyakit yang mereka derita. jumlah pasien dukun cilik ini lumayan banyak untuk dukun baru sepertinya, mencapai 8.000 lebih, sampai-sampai panitia yang mengelola praktek dukun ini menyediakan kupon sehingga antrean pasien dapat terkendali. Dan menurut info yang saya dapatkan, praktik si dukun cilik ini sempat ditutup beberapa kali akibat jalan yang rusak maupun jalan yang macet akibat banyanya pasien yang bergerak dari segala arah menuju rumahnya. Bahkan terdapat beberapa pasien yang yang meninggal dunia akibat desak desakan antar pasien yang membuat beberapa pasien terinjak-injak dan tewas.
Sungguh tragis, maksud hati ingin sembuh, e.. malah sembuh untuk selamanya (red mati).
Akan tetapi, perkembangan zaman tersebut tidak mempengaruhi pola pikir saudara kita di pulau Jawa bagian timur, tepatnya di kota Jombang. Pernyataan ini terbukti dengan kepercayaan mereka dengan dukun (tahun 2009 masih percaya dukun…! ). Lebih detailnya lagi dukun itu bukanlah dukun seperti normalnya dukun pada umumnya, yang berusia rata-rata diatas 50 tahun. Dukun yang satu masih berusia dibawah 17+ (red 17 tahun), dan ironisnya ia dianggap seorang dukun, hanya karena ia menemukan sebuah batu yang dapat menyembukan tetangganya yang sakit.
Sejak kejadian itu, banyak warga yang mendengar berita tersebut dan tersebar luas berita tentang ’si dukun cilik’ dari Jombang . Tidak sedikit warga ( red pasien) yang berbondong-bondong menuju ke tempat tinggal bocah tersebut, yang ingin di sembuhkan dari penyakit yang mereka derita. jumlah pasien dukun cilik ini lumayan banyak untuk dukun baru sepertinya, mencapai 8.000 lebih, sampai-sampai panitia yang mengelola praktek dukun ini menyediakan kupon sehingga antrean pasien dapat terkendali. Dan menurut info yang saya dapatkan, praktik si dukun cilik ini sempat ditutup beberapa kali akibat jalan yang rusak maupun jalan yang macet akibat banyanya pasien yang bergerak dari segala arah menuju rumahnya. Bahkan terdapat beberapa pasien yang yang meninggal dunia akibat desak desakan antar pasien yang membuat beberapa pasien terinjak-injak dan tewas.
Sungguh tragis, maksud hati ingin sembuh, e.. malah sembuh untuk selamanya (red mati).
Kamis, 12 Februari 2009
ibitibit
Fatwa yang "HARAM"
Seiring berjalannya bulan di tahun 2009 ini, sejalan pula dengan persiapan semua elemen rakyat republik Indonesia untuk menyongsong dan mensukseskan acara 5 tahunan, pemilu 2009. Banyak individu maupun golongan golongan yang menganggap pemilu tersebut tidak ada daya guna untuk mensejahterakan masayarakat, terutama rakyat kecil, dan bahkan akan menyengsarakan mereka. Sehingga kepercayaan mereka terhadap calon presiden semakin sedikit, dan mereka memilih goalput.
Beranjak dari fenomena inilah, MUI (Majlis 'Ulama Indonesia), ber-ijtima' sehingga menghasilakan fatwa yang mengharamkan goalput dalam pemilu bulan April mendatang. tentu saja hasil ijtima MUI ini mendatangkan kontroversi dan pro-kontra dari berbagai pihak.
Beranjak dari fenomena inilah, MUI (Majlis 'Ulama Indonesia), ber-ijtima' sehingga menghasilakan fatwa yang mengharamkan goalput dalam pemilu bulan April mendatang. tentu saja hasil ijtima MUI ini mendatangkan kontroversi dan pro-kontra dari berbagai pihak.
Senin, 26 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)